Bermain dengan Retorika

Di kehidupan nyata, setiap penggal keseharian kita tidak akan pernah terlepas dari satu hal yang bernama komunikasi. Posisi kita sebagai pengelola muka bumi ini meminta kita untuk senantiasa menjalin komunikasi dengan sesama manusia yang lainnya. Bentuk komunikasi ini bisa berupa komunikasi informal, sebuah pola komunikasi yang telah menjadi kebiasaan sehari-hari. Tidak ada petunjuk khusus atau peraturan tertulis terkait pola komunikasi informal ini. Karena memang pada dasarnya, pola komunikasi informal ini dibiarkan mengalir dari satu orang menuju orang yang lainnya. Adapun bentuk komunikasi lainnya, yaitu komunikasi formal di dalam sebuah forum ataupun komunikasi di depan sekumpulan massa. Pola komunikasi ini menuntut suatu keahlian khusus agar pesan yang ingin disampaikan memberikan suatu dampak bagi khalayak yang mendengarkan, baik itu berupa ajakan, ataupun sebuah pengaruh yang ditanamkan kepada orang lain.

Dalam dunia mahasiswa, retorika juga merupakan suatu keahlian yang perlu dikuasai. Perannya sebagai agent of change dan guardian of value menuntuk mahasiswa untuk dapat berperan lebih di tatanan hidup masyarakat. Karena seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa mahasiswa memiliki posisi sebagai masyarakat sipil yang berpendidikan. Oleh karena itu, mahasiswa perlu senantiasa bergerak menciptakan sebuah perubahan dan senantiasa mengawasi kebijakan pemerintah demi terciptanya tatanan hidup masyarakat yang lebih baik. Untuk menciptakan sebuah gerakan yang massive tersebut, maka dibutuhkan sebuah seni untuk menggerakkan orang lain. Dan seni itu bernama retorika.

Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa retorika zaman sekarang bermuara sedikitnya pada dua hal : ajakan dan pengaruh.  Berbeda dengan retorika zaman dahulu yang bertujuan untuk membela diri untuk tujuan mempertahankan kepentingan praktis. Retorika di zaman sekarang diarahkan pada bagaimana agar kita dapat menggerakkan banyak orang dengan untaian kata yang keluar dari mulut kita. Selain itu juga retorika hadir agar kita dapat mempengaruhi seseorang atau suatu kelompok dengan gagasan-gagasan dan ide yang kita miliki sehingga mereka sejalan dengan pola pikir kita. Menurut Aristoteles, seni mempengaruhi orang dipengaruhi oleh tiga faktor :

  1. Ethos, kita harus sanggup menunjukkan kepada khalayak bahwa kita memiliki pengetahuan yang luas, kepribadian yang terpercaya, dan status yang terhormat
  2. Pathos, kita harus menyentuh hati, perasaan, emosi, harapan, kebencian dan kasih sayang khalayak
  3. Logos, kita meyakinkan khalayak dengan mengajukan bukti atau yang kelihatan sebagai bukti. Di sini kita mendekati khalayak lewat otaknya

Nah, untuk memenuhi ketiga faktor di atas, maka dibutuhkan sebuah retorika dalam setiap penyampaian pesan. Retorika di sini tidak terpaku pada bagaimana kita dapat berbicara dengan baik di depan khalayak. Namun, retorika ini merupakan segala macam hal yang mendukung penyampaian pesan sehingga penyampaian pesan tersebut memenuhi tujuan awal, baik tujuan untuk mengajak, atau tujuan untuk mempengaruhi. Oleh karena itu, retorika juga sering disebut seni dalam menyampaikan pesan, karena tidak hanya apa yang keluar dari mulut saja yang perlu diperhatikan, namun sikap, mimik wajah, alur berbicara, kepekaan terhadap audiens, dsb juga perlu diperhatikan.

Satu poin penting dalam beretorika adalah penguasaan konten. Teknik sempurna di atas panggung bila tidak disertai dengan konten yang berkualitas maka hanya akan menghadirkan pidato tak berisi. Khalayak akan merasakan kesia-siaan mendengarkan, kemudian sedikit demi sedikit memunculkan keacuhannya. Ini yang harus dihindari. Oleh karena itu, konten merupakan aspek terpenting dalam beretorika. Konten ini dapat berupa gagasan hangat nan manfaat yang keluar dari benak kita didukung dengan data-data otentik dari lapangan yang berkaitan dengan topik yang akan dibahas. Ketika dua aspek ini berpadu, maka retorika kita akan memiliki suatu kekuatan tersendiri.

Selain mempersiapkan konten, ada beberapa hal yang perlu dilakukan sebelum beretorika. Hal tersebut diantaranya adalah :

  • Luruskan Niat

Niat yang tidak jernih seringkali merusak kesempurnaan kita dalam beretorika. Niat yang keruh juga tidak jarang malah membuat kita tidak fokus di atas panggung sehingga pesan-pesan yang disampaikan tidak tepat sasaran. Niat yang lurus sebelum beretorika akan membuat kita tenang dan fokus dalam menyusun alur pembicaraan di atas panggung. Niat yang lurus juga akan memberikan kekuatan di setiap kata-kata yang diucapkan selama berbicara di depan khalayak.

  • Pelajari Topik yang Akan Dibahas
Mempelajari topik yang akan dibahas termasuk ke dalam usaha kita dalam menguatkan konten yang akan disampaikan. Selain mempelajari materi, penting juga dalam mempelajari audiens yang akan mendengarkan apa yang kita bicarakan. Setiap akan mempersiapkan melakukan retorika, harus senantiasa dipersiapkan dengan baik. Sikap mental untuk tidak menjadikan retorika sebagai sebuah uji coba perlu ditanamkan dalam diri kita. Dengan demikian, kita akan selalu dalam sebuah kondisi bahwa kita akan senantiasa memberikan yang terbaik dalam setiap urusan kita, termasuk dalam beretorika.
  • Kaitkan Emosi

Terkadang, hampir dalam setiap penggalan retorika kita, bukan isi dari materi yang akan membius khalayak yang mendengarkan, namun kekuatan emosi yang terintegrasikan di dalam isi materi tersebut. Kekuatan emosi menularkan aura konstruktif dalam penyampaian pesan sehingga mendorong khalayak untuk sedikit demi sedikit tergerak hatinya untuk mengikuti apa yang kita sampaikan. Untuk itu, perlu ada proses peresapan makna di dalam persiapan agar emosi mengalir dan menghasilkan kekuatan dalam berkata-kata. Kita lihat contoh. Sukarno misalnya. Ketika melakukan sebuah pidato atau orasi, Sukarno senantiasa melibatkan emosinya ketika berbicara sehingga khalayak yang mendengarkannya terbawa suasana dan terpengaruh oleh apa yang disampaikan Sukarno.

Untuk ranah teknis di panggung, beberapa poin juga perlu diperhatikan. Pertama, intonasi. Nada yang datar dalam berbicara hanya akan menimbulkan kebosanan khalayak. Intonasi yang beragam akan menimbulkan ketertarikan, apalagi disesuaikan dengan konten dan emosi yang terlibat saat itu. Kedua, alur. Alur yang sistematis dalam penyampaian materi akan mengarahkan khalayak pada tujuan sebenarnya dari penyampaian pesan yang akan disampaikan. Hal ini juga akan membuat mereka mendapatkan poin penting dari apa yang disampaikan. Alur yang kacau dan berbelit-belit malah akan membuat pesan kita tak tersampaikan seutuhnya sehingga terjadi banyak distorsi dari pesan kita yang sesungguhnya. Ketiga, gesture dan mimik. Pesan akan lebih tersampaikan dan lebih mengena ketika penyampaian kita dibumbui oleh gestur dan mimik. Pembubuhan gestur yang baik dan mimik yang pas akan memberikan suasana berbeda pada apa yang kita sampaikan. Visualisasi yang timbul akibat mimik dan gestur ini akan menambah presentase ketercapaiannya tujuan penyampaian pesan. Keempat, flow. Flow juga perlu diperhatikan. Terlebih ketika melakukan orasi. Emosi khalayak perlu disetting sedemikian rupa sehingga emosi mereka diarahkan untuk maksimal di klimaks. Klimaks terlalu dini juga akan menyebabkan fokus khalayak menjadi blur di akhirnya. Kelima, kontak mata. Tiada yang lebih menyenangkan dalam sebuah pentas retorika kecuali saat semua audiens merasa dianggap oleh pembicara. Dan hal itu didapatkan melalui kontak mata. Kontak mata juga merupakan alat pemikat perhatian pertama dalam sebuah retorika. Semakin sering diperhatikan, semakin sering audiens merasa dianggap. Situasi seperti ini juga mendukung ketersampaiannya pesan, karena audiens merasa terlibat di sana. Keenam, diksi. Pemilihan diksi yang sesuai akan memberikan ruh kepada pesan yang kita sampaikan. Bila pemilihan diksi dipadukan dengan keterkaitan emosi, maka setiap untaian kata yang kita keluarkan akan membuat jiwa khalayak tergerak untuk mengikuti apa yang kita ucapkan.

Satu hal terakhir yang penting juga adalah bahwa efek penyampaian pesan kita akan baik tatkala kita mengusahakan diri ini menjadi orang yang baik juga. Dimulai dari persiapan yang matang, konten yang berkualitas nan penuh kebaikan, dan penyampaian yang dikemas dengan menarik. Apabila hal tersebut telah menjadi bagian dari diri kita, maka retorika kita pun sudah tak patut lagi untuk dipertanyakan. Pesan dari Cicero :

The good man speaks well.

Wallahu’alam

Advertisement

2 comments to Bermain dengan Retorika

  1. Yusuf says:

    Talk less do more

Mari kita diskusi :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s